Pura Lingsar: Tempat Ibadah Dua Keyakinan dalam Satu Kompleks
Ringkasan cepat:
- Pura Lingsar di Lombok Barat dipakai umat Hindu dan masyarakat Sasak penganut Wetu Telu secara berdampingan.
- Kompleksnya terdiri atas Pura Gaduh untuk umat Hindu dan Kemaliq dengan mata air serta kolam suci.
- Perang Topat, ritual lempar ketupat dua komunitas, digelar setahun sekali mengikuti kalender adat.
Bayangkan sebuah tempat ibadah tempat dua komunitas berbeda keyakinan berdoa di kompleks yang sama, lalu setahun sekali saling melempar ketupat sambil tertawa. Kedengarannya seperti adegan film yang terlalu manis untuk jadi kenyataan, tapi di Lombok Barat tradisi itu benar-benar ada dan sudah berlangsung ratusan tahun.
Tempat itu bernama Pura Lingsar. Panduan ini merangkum sejarahnya, bagian-bagian kompleksnya, seperti apa kondisi fisiknya hari ini, ritual Perang Topat, serta aturan sopan yang perlu Anda ketahui sebelum berkunjung.
Apa Itu Pura Lingsar?
Pura Lingsar adalah kompleks tempat ibadah di Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, yang digunakan bersama oleh umat Hindu dan masyarakat Sasak penganut Wetu Telu. Wetu Telu adalah praktik keagamaan sebagian masyarakat Sasak yang memadukan ajaran Islam dengan tradisi leluhur setempat. Kompleks ini terletak di sebelah timur Kota Mataram, searah dengan jalur menuju Narmada, dan dikelilingi hamparan sawah.
Yang membuat Pura Lingsar istimewa bukan ukurannya, melainkan cara dua komunitas berbagi ruang suci tanpa saling menghapus identitas. Bagi pelajar yang sedang belajar soal toleransi, tempat ini sering lebih mudah dipahami daripada satu bab penuh di buku pelajaran.
Bagaimana Sejarah Pura Lingsar?
Pura Lingsar dibangun pada tahun 1714 oleh Anak Agung Ngurah dari Karangasem, Bali, pada masa pengaruh kerajaan Bali di Lombok bagian barat. Catatan sejarah ini juga dimuat dalam artikel Wikipedia tentang Pura Lingsar. Sebelum pura berdiri, kawasan ini sudah dihormati masyarakat Sasak karena adanya mata air yang dianggap suci.
Penelitian dari Universitas Hamzanwadi menyebutkan bahwa Kemaliq, bagian yang dihormati masyarakat Sasak, sudah ada sejak abad ke-15 dan dikaitkan dengan tokoh bernama Datuk Milir, lalu dipugar pada 1714 karena berada satu kompleks dengan Pura Gaduh. Rinciannya bisa Anda baca dalam jurnal Nilai-Nilai Sejarah Kemaliq Lingsar dan Peranannya Bagi Kehidupan Masyarakat Desa Lingsar Lombok Barat. Dua versi asal-usul ini tidak saling meniadakan: keduanya justru menunjukkan bahwa Lingsar sudah menjadi titik temu sejak lama.
Apa Saja Bagian di Kompleks Pura Lingsar?
Kompleks Pura Lingsar memiliki dua bangunan suci utama, yaitu Pura Gaduh untuk umat Hindu dan Kemaliq untuk masyarakat Sasak, ditambah kolam-kolam besar dan area pemandian. Keduanya berdiri berdampingan, sehingga pengunjung bisa melihat dua tradisi dalam satu kali kunjungan.
| Bagian | Digunakan oleh | Yang bisa dilihat pengunjung |
|---|---|---|
| Pura Gaduh | Umat Hindu | Pelinggih yang menghadap Gunung Rinjani dan Gunung Agung, serta pelinggih ganda yang melambangkan persatuan Lombok dan Bali |
| Kemaliq | Masyarakat Sasak penganut Wetu Telu | Mata air yang dianggap suci dan kolam berteratai yang dihuni belut keramat |
| Kolam besar | Bagian dari kompleks | Tiga kolam besar di dalam kawasan |
| Area pemandian | Masyarakat setempat | Kolam pemandian umum di dalam kawasan |
Belut di kolam Kemaliq dianggap keramat. Pengunjung biasanya memberi makan dengan telur rebus yang dijual di sekitar lokasi, dan bagi sebagian orang, belut yang muncul dianggap pertanda baik. Kalau belutnya sedang malas keluar, anggap saja ia sedang menjalankan tugas menjaga ketenangan kolam.
Baca juga:
Seperti Apa Kondisi Fisik Pura Lingsar Saat Ini?
Kompleks Pura Lingsar masih utuh dan aktif digunakan untuk ibadah, dengan tata ruang berupa halaman bertembok, bangunan pura, kemaliq, dan kolam yang dikelilingi pepohonan serta sawah. Luas kawasannya semula sekitar 40.000 meter persegi, lalu menyusut menjadi kira-kira separuhnya seiring perkembangan permukiman di sekitarnya.
Gempa Lombok tahun 2018 sempat merusak sebagian tembok luar kompleks, dan halamannya pernah menjadi tempat pengungsian warga. Bagi Anda yang datang untuk tugas pengamatan atau penelitian, perhatikan perpaduan unsur arsitektur Bali pada bangunan pura dengan suasana Kemaliq yang lebih sederhana dan berpusat pada mata air. Perbedaan gaya ini adalah bukti fisik paling jelas dari dua tradisi yang hidup berdampingan.
Apa Itu Perang Topat di Pura Lingsar?
Perang Topat adalah ritual tahunan di Pura Lingsar ketika umat Hindu dan masyarakat Sasak saling melempar ketupat setelah berdoa bersama, sebagai ungkapan syukur dan harapan akan kesuburan. "Topat" adalah sebutan ketupat dalam bahasa Sasak. Lemparannya tidak dimaksudkan untuk melukai, melainkan bagian dari perayaan yang meriah.
Ritual ini digelar bertepatan dengan purnama ketujuh dalam kalender Sasak, yang sejalan dengan purnama keenam dalam kalender saka Bali, sehingga tanggalnya berubah setiap tahun. Setelah ritual, ketupat yang berserakan biasanya dibawa pulang petani untuk ditebar atau dikubur di sawah sebagai simbol harapan panen yang baik. Pantau pengumuman resmi setempat sebelum menjadwalkan kunjungan, karena tanggal pastinya mengikuti penetapan adat.
Apa Aturan Berkunjung ke Pura Lingsar?
Pengunjung Pura Lingsar wajib berpakaian sopan dan mengenakan kain atau selendang di pinggang saat memasuki area pura. Ini aturan dasar hampir di semua pura, dan di Lingsar berlaku untuk wisatawan maupun rombongan pelajar.
- Kenakan pakaian yang menutup bahu dan lutut, lalu ikat kain atau selendang di pinggang sebelum masuk.
- Ikuti arahan pengelola atau pemangku soal area yang boleh dan tidak boleh dimasuki.
- Jangan memanjat bangunan atau duduk di pelinggih demi foto.
- Jaga suara, terutama saat ada warga yang sedang beribadah.
- Tanyakan ketentuan terkini soal tiket atau donasi di lokasi, karena kebijakannya bisa berubah.
Pura Lingsar cocok dimasukkan ke perjalanan edukasi karena materinya lengkap: sejarah, toleransi beragama, dan arsitektur dalam satu tempat. Kunjungan ini sudah menjadi bagian dari Paket Study Tour Lombok yang dirancang untuk sekolah dan kampus.
Bagaimana Memasukkan Pura Lingsar ke Rencana Perjalanan?
Pura Lingsar paling praktis dikunjungi dalam rute Mataram, Narmada, dan Lingsar, karena ketiganya berada di jalur yang sama di sisi timur kota. Kunjungan ke pura umumnya cukup satu sampai dua jam, termasuk waktu memberi makan belut dan berkeliling kompleks.
Untuk rombongan perusahaan, Pura Lingsar sering dijadikan penutup yang reflektif setelah hari-hari penuh agenda, misalnya pada Paket MICE Lombok 3D2N (Meeting & Team Building). Suasananya tenang, dan pesan tentang kerja sama dua komunitas terasa relevan bagi tim yang baru selesai sesi team building.
Sementara bagi Anda yang suka petualangan, kawasan Lingsar juga dikenal dengan arung jeramnya. Menggabungkan jeram di pagi hari dengan kunjungan pura di siang hari adalah kombinasi yang menarik, dan rutenya sudah tersedia dalam paket rafting Lombok yang bisa disesuaikan.
Baca juga:
Kesimpulan
Pura Lingsar adalah kompleks ibadah di Lombok Barat yang dipakai umat Hindu dan masyarakat Sasak penganut Wetu Telu secara berdampingan sejak ratusan tahun lalu. Di dalamnya ada Pura Gaduh, Kemaliq dengan mata air suci, dan kolam belut keramat, sementara Perang Topat setiap tahun menjadi perayaan bersama kedua komunitas. Jadi, adegan dua komunitas yang saling melempar ketupat sambil tertawa tadi bukan naskah film yang terlalu manis, melainkan tradisi nyata yang bisa Anda saksikan sendiri.
Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan
Di mana lokasi Pura Lingsar?
Pura Lingsar berada di Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, di sebelah timur Kota Mataram dan searah dengan jalur menuju Narmada.
Siapa yang membangun Pura Lingsar?
Pura Lingsar dibangun pada tahun 1714 oleh Anak Agung Ngurah dari Karangasem, Bali. Bagian Kemaliq yang dihormati masyarakat Sasak disebut sudah ada lebih dulu, sejak abad ke-15.
Mengapa Pura Lingsar disebut tempat ibadah dua keyakinan?
Karena kompleks ini digunakan bersama oleh umat Hindu di Pura Gaduh dan masyarakat Sasak penganut Wetu Telu di Kemaliq. Keduanya berdampingan dalam satu kawasan dan merayakan Perang Topat bersama.
Kapan Perang Topat digelar?
Setahun sekali, bertepatan dengan purnama ketujuh kalender Sasak atau purnama keenam kalender saka Bali. Tanggalnya berubah setiap tahun, jadi pantau pengumuman resmi setempat.
Apa yang harus dipakai saat berkunjung ke Pura Lingsar?
Pakaian sopan yang menutup bahu dan lutut, ditambah kain atau selendang yang diikat di pinggang saat memasuki area pura. Ikuti juga arahan pengelola di lokasi.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berkunjung?
Umumnya satu sampai dua jam, sudah termasuk berkeliling kompleks dan memberi makan belut di kolam. Kunjungan ini mudah digabung dengan Narmada karena berada di jalur yang sama.
About the Author


Syukron
Founder • Lombok Travelution • Tourism Consultant
Syukron is a tourism professional and destination specialist based in Lombok, Indonesia. Starting his career as a local tour guide in 2012, he has spent more than a decade helping international travelers discover Lombok through authentic experiences, cultural understanding, and personalized travel planning. Today, he leads Lombok Travelution, focusing on private tours, inbound travel services, and sustainable tourism experiences designed for modern independent travelers. As an active member of ASTINDO and AITTA, he regularly contributes to tourism discussions and industry initiatives at both national and international levels. His mission is simple: to transform every trip into a memorable and professionally managed experience while supporting local communities and showcasing the authentic beauty of Lombok.
Share
Baca Artikel lainnya


Ke Air Terjun Saat Musim Hujan: Kapan Masih Aman dan Kapan Sebaiknya Ditunda
Ringkasan: Air terjun Lombok musim hujan tetap bisa dikunjungi pada pagi hari, asalkan hulu tidak hujan deras semalaman. Bahaya utamanya

Peresean Lombok: Uji Nyali & Filosofi Kesatria Sasak, Tarung Rotan yang “Anti Baper”
Definisi: Peresean adalah seni bela diri tradisional Suku Sasak di Lombok yang mempertemukan dua lelaki (pepadu) dalam adu ketangkasan, nyali,

Lombok Rafting: Pacu Adrenalin Anda dengan Arung Jeram Seru di Lingsar!
Ringkasan Cepat: Lokasi Utama: Sungai Karang Jangkok, Desa Batu Mekar, Lingsar, Lombok Barat. Spesifikasi Teknis: Jarak tempuh 6–8 km, durasi


Hotel untuk Rombongan di Lombok: Kapasitas, Tipe Kamar, dan Hal yang Sering Terlewat
Ringkasan: Hotel untuk rombongan di Lombok butuh kamar twin, triple, dan kadang quad dalam jumlah banyak sekaligus, bukan sekadar kamar


Snorkeling di Lombok untuk Pemula: Titik yang Tenang, Arus, dan Perlengkapan
Ringkasan: Snorkeling Lombok untuk pemula paling aman di teluk tertutup seperti Gili Nanggu dan Gili Sudak, bukan di selat terbuka.


Wisata Lombok Berdua: Rute, Biaya, dan Hal yang Sering Terlewat
Ringkasan cepat: Hampir seluruh paket wisata Lombok disusun dengan asumsi rombongan, sehingga berdua terasa mahal padahal bukan Anda yang dicurangi.

MATARAM — Industri pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) memasuki babak baru yang penuh optimisme. Melalui Musyawarah Daerah (Musda) DPD ASTINDO